KodeSaya|JanganDiHapus

[x]
Source Code Aplikasi Perpustakaan Sekolah menggunakan Delphi7 dan Ms. Access
Informasi Butuh blog yang menarik tapi
tidak punya waktu untuk membuatnya?
Kami solusinya. Jasa murah pembuatan blogspot menarik.
Klik disini untuk infonya.

Minggu, 17 Januari 2010

KENAPA AKU TAK DILAHIRKAN MENJADI SUPERSTAR (UNTUK PARA REMAJA)

Seorang remaja menulis e-mail pada tuhan. “ Ketika menciptakan manusia, bagai mana kau menentukan bakat – bakat mana yang diberikan pada masing – masing orang? Apa yang membuat Mu memberikan suara merdu pada Celine Dion, dan mengapa bukan sosok Skater yang menerima mendali emas atau sosok seorang doktor?” Lalu Tuhan membalasnya “ Aku tidak membuat keputusan – keputusan itu. Kaulah yang melakukannya. Pikirkanlah ini : kau menciptakan dirimu sendiri tiap waktu. Kau melukis potret dirimu sendiri, kemampuan, bakat, kecakapan, karakteristik dan kualitas fisik, keadaan yang lebih luar adalah warna – warna yang kau gunakan, Aku menyediakan kanvas, kaulah yang memilih warna – warnanya”. (Neale Donald Walsch, Percakapan dengan Tuhan untuk Remaja)
Semua kamu dalah superstar juga superman. Namun tak ada manusia yang di dunia ini lahir langsing menjadi superstar. Tidak percaya, coba amati saja tumbuhan yang ada di sekitarmu. Adakah mawar yang kamu tanam langsung muncul kembangnya? Adakah biji mangga yang kamu tanam langsung menyajikan buahnya yang ranum dan manis?
Semuanya mengalami proses, Kecil, membesar, kemudian membesar dan memunculkan bentuk aslinya. Benih mangga tidak akan persis sama dengan pohon atau buahnya. Tak ada tanda – tanda bahwa benih mangga itu kan menjadi pohon mangga yang kuat dan kokoh, namun jika ia terus dibiarkan tumbuh, dia akan menjadi pohon mangga yang besar, kokoh dan rindang dan memnghasilkan buah yang sangat manis. Begitu juga dengan kamu, saat ini gak jelas tanda bahwa kamu akan menjadi apa dan siapa. Persisi seperti biji mangga, teruslah tumbuh dan menetap pada tempat mu tumbuh, jika biji mangga tersebut terus berpindah tempat dia akan mati.
Pada proses ini yang dibutuhkan adalah kesabaran. Pohon tidak pernah tumbuh secara tergesa. Pertumbuhan yang terlalu cepat akan menghasilkan buah yang kurang enak, atau menyimpan penyakit. Keinginan yang terlalu cepat untuk mendapatkan sesuatu akan membuat mu sakit. Adik kamu yang masih bayi tidak dapat langsung mengunyah donat kesukaan mu. Begitu dipaksa adik kamu akan merasa sakit. Ibumu yang mengatur kapan saatnya adik bayi akan diberi bubur, kapan waktunya mendapatkan nasi. Semuanya diatur dengan kasih dan daya terima adik bayi.
Begitu juga dengan diri kamu, Tuhan yang dalam bahasa Al – Quran sering disebut Rabb, adalah pemelihara, pengasuh dan pendidik, Tuhan yang Rabb itu member kamu sesuai dengan daya terima. Semakin besar daya terima yang kamu miliki, semakin melimpah pemberian Tuhan kepada kamu. Tuhan tidak membedakan satu manusia dengan manusia lain, semua diperlakukan secara Rahman: member sesuai dengan daya terima.
Daya terima itu seperti gelas. Kamu haus dan ingin minum. Semakin besar gelas yang kamu miliki, semakin banyak air yang dapat kamu peroleh. Bedanya gelas itu kamu yang membuatnya. Gelas itu dapat membesar dan mengecil sesuai dengan keinginan kamu. Daya terima itu dapat kamu ciptakan dengan menerima diri kamu apa adanya. Semakin besar kamu menerima dirimu apapun kondisinya, semakin besar pula kita menerima pemberian Tuhan. So jangan berkecil hati. ( sumber “Pede Aja lagi By Bambang Q-Anees)

Foto Siswa-siswi Tahun Ajaran 2009 / 20010

Ini Siswa siswi kelas 12 IPA 2 tahun Ajaran 2009 / 2010

Ini siswa siswi Kelas 12 IPA 1 Tahun Ajaran 2009 / 20010

IBU, DENGAN APA AKU MENYUSUINYA ?

Ditulis oleh Indra YT
Genggaman tangan ibu begitu erat. Dari situ dapat kurasakan kesakitan yang dideritanya dan perjuangan hidup matinya. Jika aku baru pertama kali menyaksikannya mungkin separuh nyawaku sudah terbang tak tentu arah. Erangan nafas ibu begitu menghujam jantungku. Aku hanya dapat membalas dekapan tangan ibu di telapak tanganku.
Ayah yang sejak setengah tahun lalu mengadu nasib di negara tetangga tak tahu bagaimana anginnya. Tinggallah aku dan ibu yang mungkin bertambah satu lagi. Ibu masih berjuang untuk mengerang, mengejan bahkan untuk bernafas. Mbok Kandis yang hanya diam dalam melaksanakan ritualnya menambah kebisuan malam yang penuh dengan rintihan.
Genggaman tanganku masih membalut tangan ibu yang takkan kulerai hingga prosesi ini selesai. Selama tujuh tahun aku hidup di dunia ini sudah tiga kali aku terlibat langsung dalam adegan yang menurutku mematikan. Sudah tiga kali pula aku menyaksikan serah terima benda yang dikeluarkan ibu dengan berlumur darah oleh ayahku. Ibu yang terkulai lemah tak mampu mencairkan hati ayah yang membatu. Padahal imbalan yang kami terima tak seberapa. Ibu hanya tidak akan memulung selama beberapa minggu. Aku dapat merasakan apa yang bercokol dalam hati ibu. Wajahnya yang tidak ikhlas, matanya yang berpeluh, desahan nafasnya yang mengamuk.
Nafas ibu semakin menderu seperti puting beliung, genggaman tangan ibu semakin mengikat seperti lilitan ular akan mangsanya. Aku mulai panik. Ini berbeda. Biasanya aku hanya menyapu butiran air dikeningnya. Kali ini aku harus menyeka air yang mengalir dari matanya. Seharusnya ibu senang karena ayah tidak ada untuk menyerahkan separuh nyawanya kepada orang lain.
Mbok Kandis yang membisu mulai mengeluarkan suara yang menurutku tanda kepanikan. Tanpa melepaskan genggaman ibu, aku mencoba membaca goresan-goresan wajah Mbok Kandis. Di sana terlihat bahwa Mbok Kandis putus asa, tidak mampu menyelesaikan prosesi ini. Aku menatapnya penuh harap. Mbok Kandis berusaha lagi. Aku tak tahu apa yang dilakukan Mbok Kandis di balik kain yang menutupi selangkangan ibu.
“Sungsang!” Sekilas terdengar suara angin di telingaku sekaligus desiran darahku mengalir seribu kali lebih cepat. Aku tidak tahu apa artinya tapi dari raut wajah Mbok Kandis yang begitu ketakutan dan wajah ibu yang begitu kesakitan, aku yakin ini berbahaya.
Aku hampir menangis. Kuciumi ibu yang terus-menerus mengerang kesakitan. Dia mulai menatapku. Dan aku tak mampu berkata apa-apa. Entah dia mendengar atau tidak, dalam hati aku terus memberi semangat. Matanya mulai terkatup dan genggamannya mulai melemah. Sesaat semuanya menjadi ricuh berusaha menyadarkan ibu. Aku menggenggam, meremas, menggosok-gosok tangan ibu. Sementara Mbok Kandis menyebarkan bau-bauan yang amat sangat menyengat.
Ibu masih tidak sadarkan diri. Aku diguncang kepanikan yang luar biasa. Tubuhku gemetar sama rasanya ketika aku tidak makan selama dua hari. Butiran bening mulai mengucur dari kening Mbok Kandis. Batinku terus merajut doa pada Yang Kuasa. Aku menyesali permintaan ibu untuk dibawa kemari karena dari awal aku sudah merasa sangat khawatir padahal prosesi serupa yang terdahulu dilakukan di tempat ini juga. Tapi aku juga tak dapat berbuat apa-apa karena terlalu sulit bagi orang-orang seperti kami untuk dapat menembus gedung putih.
Usaha kami menyadarkan ibu tidak sia-sia. Prosesi itu berlanjut kembali tapi dengan erangan yang menyiratkan kesakitan yang begitu dahsyat. Baru kali ini kulihat ibu begitu tersiksa. Ibu mengejan, memekik, dan merapatkan giginya sekuat-kuatnya. Ruh dan jasadku seakan terpisah karena tak sanggup mendengar teriakan ibu. Apakah ibu juga merasakan sakit yang sama ketika melahirkan aku? Apakah ibu-ibu lain juga harus menderita ketika harus melahirkan anak-anaknya? Dan aku, apakah ketika nantinya akan melahirkan anak-anakku juga harus tersiksa? Aku tak sanggup membayangkannya.
Usaha ibu berhasil. Seonggok daging berbalut ari-ari dan lumuran darah telah keluar dengan diiringi tangisan merdu. Aku lega, dan ibu terlihat lebih tenang. Ibu sibuk mengatur nafasnya yang mengalir satu per satu. Mbok Kandis pergi entah kemana membawa bayi itu.
Kembali kusapu kening dan pipi ibu. Aku mulai membersihkan selangkangannya dari cairan-cairan merah berbau amis yang muncrat entah kemana. Aku heran, sesuatu yang ganjil terjadi. Mengapa darah ibu mengalir begitu derasnya seperti mata air yang mengalir di belakang rumahku?
Aku panik. Malam yang kelam telah menelan Mbok Kandis. Barisan paduan suara binatang malam menghambat pendengaranku akan tangisan bayi yang dibawanya. Di ambang pintu aku hanya memandang hitamnya awan yang menutupi bulan dan putihnya wajah ibu yang sendu dan sayu. Untunglah Mbok Kandis segera kembali dengan bayi yang didekap kuat dengan jarik usang. Melihat keadaan ibu, Mbok Kandis langsung menyerahkan apa yang ada di tangannya kepadaku. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, biasanya ayah yang langsung menggendongnya dan memberikan kepada orang lain.
Ibu terkulai lemas dan nyaris tidak ada kehidupan diwajahnya. Aku mendekati ibu tanpa menghiraukan Mbok Kandis yang sudah kehabisan akal dan tenaga untuk membantu ibu. Mata ibu terbuka. Tanpa tenaga ia berusaha meraih bayi dalam gendonganku. Kusambut tangan ibu dan menggenggamnya. Aku mengerti apa yang dikatakannya lewat mata pilunya.
Waktu seolah berhenti. Untuk beberapa saat aku terpaku menatap wajah ibu yang putih pucat. Guratan-guratan kesedihan yang selama ini dipangkunya hilang sudah. Penderitaan-penderitaan yang selalu ditelannya sirna sudah. Tinggallah aku yang akan memikulnya. Tanpa tetesan embun dan kucuran peluh dari mataku, aku menyaksikan ibu tanpa perlawanan meregang nyawa. Teringat aku pada pesan ibu yang terakhir.
“Ibu, dengan apa aku menyusuinya?”.

Kamis, 03 Desember 2009

Pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL)

Check out this SlideShare Presentation:

Selasa, 24 November 2009

Cerita Anak Singa


Suatu hari, ada seekor anak singa dilahirkan oleh pasangan singa. Tak lama setelah anak singa tersebut dilahirkan, ia harus kehilangan bapaknya. Bapaknya tewas diburu oleh manusia, maka hiduplah ia bersama ibunya. Akan tetapi, tak lama kemudian ia pun harus berpisah dari ibunya karena ibunya juga mengalami hal yang tidak jauh berbeda dengan bapak singa. Akhirnya, sang singa pun terpaksa hidup sebatang kara. Singa yang masih kecil itu, bahkan belum mengetahui apa yang terjadi di dunia, ia masih sangat kecil sehingga tidak mengetahui bahwa ia pernah dilahirkan oleh pasangan singa.

Akhirnya, sang singa yang masih sangat kecil itu pun ditemukan oleh seekor induk kambing. Induk kambing merasa iba dengan singa kecil tersebut, akhirnya sang induk kambing pun membawa pulang singa kecil itu ke rumahnya dan berniat ingin merawatnya sampai besar.

Singa itu pun akhirnya tumbuh besar bersama dengan "saudara-saudaranya " yang lain yaitu kawanan kambing. sang singa pun hidup dengan tidak mengetahui bahwa dirinya adalah seekor singa, bahkan dia pun hidup dengan menggunakan bahasa kambing "mbeekk"

Akhirnya, suatu hari datanglah seekor serigala. serigala itu begitu kelaparan. ketika ia sedang berjalan mencari apa yang bisa dimakan, dia pun melihat kawanan kambing sedang bermain, dan tentunya ada singa kecil itu di dalamnya. bagai melihat tumpahan harta berharga, sang serigala pun mengendap-endap ke kawanan kambing. tidak ada yang menyadari bahwa ada seekor serigala sedang mengendap-endap menuju kawanan kambing kecuali sang induk kambing.

Menyadari hal itu, sang induk kambing pun meminta singa kecil untuk menakut-nakuti si serigala dengan auman. tapi apakah yang terjadi? si singa kecil tidak tau bagaimana caranya mengaum karena ia tidak pernah diajari oleh keluarganya (keluarga kambing) untuk mengaum. yang ia tau adalah bagaimana caranya untuk mengembik "mbeekk"

Sang singa kecil itu hanya bisa ketakutan seperti saudara-saudaranya yang kambing. lalu akhirnya seekor kambing pun harus berkorban dimakan oleh serigala tersebut. sang induk kambing pun marah pada singa kecil karena tidak bisa mengaum kepada serigala dan akhirnya seekor anaknya mati. "Bagaimana sih kamu ini? kenapa kamu tidak bisa mengaum?" tanya induk kambing marah. "aku tidak bisa ibu, aku tidak tahu caranya mengaum.." rintih anak kambing ketakutan. menyaksikan hal itu, serigala pun kebingungan, "Mengapa singa itu menggunakan bahasa kambing?" tanyanya dalam hati.

Lalu, di tengah hiruk pikuk tersebut, datanglah seekor singa dewasa. tadinya, singa itu ingin memakan kawanan kambing, akan tetapi, ketika ia melihat ada seekor singa kecil di kawanan itu dan menggunakan bahasa kambing, ia pun jadi bingung. sang serigala masih berniat untuk memakan kawanan kambing, si singa kecil pun berusaha keras untuk mengaum namun suara yang ia keluarkan adalah "mbeekk"

Si serigala yang tidak takut akan singa kecil itu, langsung ingin menyerbu kawanan kambing. melihat hal itu, singa dewasa pun kasihan pada kawanan kambing karena ada seekor singa kecil disana. ia pun mengaum sekeras mungkin hingga pepohonan dan rumput-rumput bergetar.

Si serigala ketakutan dan akhirnya ia pun meninggalkan kawanan kambing dan singa.

Singa dewasa pun mendekati singa kecil itu, akan tetapi reaksi yang diperlihatkan oleh singa kecil adalah ketakutan. singa dewasa bertanya, "kenapa kau menggunakan bahasa kambing? itu kan bukan bahasa kita?" singa kecil pun menjawab "karena aku seekor kambing"

Terkejutlah singa dewasa, kemudian ia pun membawa singa kecil ke pinggir danau bersama dirinya, "lihatlah, ini kita! kita berdua mirip karena kita bukan kambing, tetapi kita adalah singa". Sang singa kecil ketika melihat dirinya sendiri terkejut dan baru menyadari bahwa dirinya adalah seekor singa.
kemudian, singa pun menunjukkan pada singa kecil bagaimana cara mengaum, dan singa kecil pun belajar dengan sungguh-sungguh hingga akhirnya ia bisa mengaum.

Selasa, 17 November 2009

Foto2 Penjelajahan di SKPC

Kamis, 05 November 2009

SOAL UJIAN BLOK 1 FISIKA

Pokok Bahasan : Kinematika dengan analisis vektor
Kelas : XI Ilmu Alam
Guru : Syahri Ramadhan Pohan S.Pd
Pilihan Berganda

1. Sebuah partikel bergerak dari titik A (0, 2) ke titik B(8, 4). Vektor perpindahan partikelnya adalah ... .
A. 2i + 8j
B. 2i + 12j
C. 8i + 2j
D. 8i + 6j
E. 6i + 8j
2. Sebuah titik materi bergerak menurut persamaan kecepatan v = (2t + 4) ms–1. Jika pada saat t = 2 sekon posisi benda 15 meter, maka posisi benda saat t = 4 sekon adalah ... meter.
A. 3
B. 12
C. 16
D. 32
E. 35
3. Sebuah partikel bergerak dengan fungsi kecepatan v = 4t3 + 3t2 + 5. Semua besaran menggunakan SI. Percepatan rata-rata selama dua detik pertama adalah ... .
A. 6 ms–2
B. 12 ms–2
C. 18 ms–2
D. 22 ms–2
E. 60 ms–2
4. Sebuah partikel mengalami dua percepatan, yaitu percepatan pada sumbu x (ax) = 4 – 2t m/s2 dan pada sumbu y (ay) = 8t m/s2. Mula-mula partikel dalam keadaan diam. Kecepatan partikel setelah satu detik adalah ... .
A. 2 m/s
B. 3 m/s
C. 4 m/s
D. 5 m/s
E. 6 m/s
5. Sebuah meriam ditembakkan dengan kecepatan awal 40 m/s dan sudut elevasi  (cos). Apabila g = 10 m/s2, maka jarak tembakan mendatar yang dicapai meriam adalah ... .
A. 64 m
B. 76,8 m
C. 128 m
D. 153,6 m
E. 192 m
6. Sebuah peluru ditembakkan dengan kecepatan awal 40 ms–1 dan membuat sudut 30o terhadap horisontal. Besar kecepatan peluru pada saat mencapai titik tertinggi adalah ... .
A. nol
B. 20 ms–1
C. 20 ms–1
D. 20 ms–1
E. 40 ms–1
7. Komponen kecepatan dalam arah datar (sumbu x) dan vertikal (sumbu y) pada gerak parabola ... .
A. konstan dalam arah sumbu x maupun sumbu y
B. berubah dalam arah sumbu x maupun sumbu y
C. konstan dalam arah sumbu x dan berubah dalam arah sumbu y
D. berubah dalam arah sumbu x dan konstan dalam arah sumbu y
E. dalam arah sumbu x dan sumbu y konstan kemudian berubah semakin besar
8. Sebuah peluru ditembakkan dengan kecepatan awal 40 m/s–1 dan sudut elevasi 30o terhadap horisontal. Bila percepatan gravitasi 10 ms–2, maka peluru berada di udara selama ... sekon.
A. 2
B. 2
C. 4
D. 4
E. 30
9. Partikel yang bergerak melingkar dengan kecepatan sudut mula-mula 2 rad s–1 dipercepat dengan percepatan sudut = (3t + 2) rad s–2. Persamaan kecepatan sudut pada suatu saat dinyatakan ... .
A. 1,5t2 + 2t + 2
B. 3t2 + 2t + 2
C. 6t2 + 2t + 2
D. 1,5t2 + 2t
E. 6t2 + 2t
10. Vektor yang mempunyai nilai satu satuan adalah.....
  1. Vektor posisi
  2. Vektor satuan
  3. Vektor jarak
  4. Vektor perpindahan
  5. Vektor kecepatan

Rabu, 04 November 2009

Praktikum Komputer Kelas 11 IPA

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons | Editing by Pensil Ajaib