Selasa, 18 Mei 2010
Senin, 17 Mei 2010
Nama-nama yang lulus USMU
Alhamdulillah siswa kami Tahun 2010 ini lulus 100%. kepada anak - anak kami yang sudah lulus semoga ilmu yang telah di dapat di sekolah dapat dikembangkan kejenjang yang lebih tinggi untuk menggapai cita - cita yang diinginkan...............
trus buat anak - anak kami yang lulus USMU semoga apa yang dicita - citakan dapat di wujudkan di bangku universitas...............
Ni daftar siswa/i yang lulus USMU
- Megawati Putri bancin (Kedokteran umum, Unsyiah)
- Susanti Angkat ( Kedokteran gigi, unsyiah)
- Ngafif Muzaqin ( Kedokteran, Unsyiah, Beasiswa Propinsi Aceh)
- Citra Sari Ujung (Seni rupa, UNIMED)
- Wahyu Kristiani Ningsih Zebua (Pendidikan Fisika, UNIMED)
- Amin Muntuha ( Teknik Informatika, UNIMAL)
- Putri Ermita Sari (Agroekoteknologi, UNIMAL)
- Deddy Sutra Ary Sandy (Teknik Industri, UNIMAL)
- Ervin Khasanah ( Teknik Informatika, UNIMAl)
- Siti Rahmaini (Teknik Informatika, Unimal)
- Karmawati ( Teknik Informatika, UNIMAL)
- Win Santri (Agroekoteknologi, UNIMAl)
- Sri Sulastri (Agroekoteknologi, UNIMAL)
- Ummy Yatun (Teknik Informatika UNIMAL)
Jumat, 07 Mei 2010
OLIMPIADE SAINS
Seleksi Olimpiade Sains Nasional Tingkat Kota Subulussalam telah
berlalu, alhamdulillah SMAN Unggul banyak mendapatkan juara, mesti tak
menjadi juara umum tapi kami puas karena siswa kami yang paling banyak
mendapat juara. Seleksi Olimpiade Sains Tingkat Kota Yang diadakan di
SMAN 1 Simpang Kiri pada Tanggal 6 April 2010 kemarin menghasilkan juara
- juara baru untuk tingkat kota Subulussalam. Mesti pemenang - pemenang
lama masih ada juga. adapun hasil pemenang juara OSN tingkat Kota
subulussalam Tahun 2010 sebagai berikut :
A. Matematika
1. SMAN 1 Runding
2. SMAN Unggul Subulussalam (Elpina Dewi)
3. SMAN 1 Sultan Daulat
B. KIMIA
1. SMAN 1 Simpang KIri
2. SMAN Unggul Subulussalam (Nova Ridyawati)
3. SMAN 1 Runding
C. FISIKA
1. SMAN Unggul Subulussalam (Haris Suhendar)
2. SMAN 1 Simpang Kiri
3. SMAN Unggul Subulussalam (Fitriana Risna)
D. BIOLOGI
1. SMAN 1 Simpang Kiri
2. SMAS Jannatul Firdaus
3. SMAN 1 Simpang Kiri
E. ASTRONOMI
1. SMAN 1 Simpang Kiri
2. SMA Plus Muhammadiyah
3. SMAN Unggul Subulussalam (Kiki Karmayanti Danil)
F. EKONOMI
1. SMA Plus Muhammadiyah
2. SMAN 1 Simpang Kiri
3. SMAN Unggul Subulussalam (Siti Nurhayati)
G. KOMPUTER
1. SMAN 1 Simpang Kiri
2. SMA Plus Muhammadiyah
3. MAN Subulussalam
H. KEBUMIAN (GEOSAINS)
1. SMAN Unggul Subulussalam (Indra Hidayat)
2. SMAN Unggul Subulussalam (Ratu Amanah Ulfa)
3. SMAN 1 Runding
Buat para pemenang harus belajar lebih semangat untuk bisa menang ditingkat propinsi yang akan diadakan dibulan juni nanti....
A. Matematika
1. SMAN 1 Runding
2. SMAN Unggul Subulussalam (Elpina Dewi)
3. SMAN 1 Sultan Daulat
B. KIMIA
1. SMAN 1 Simpang KIri
2. SMAN Unggul Subulussalam (Nova Ridyawati)
3. SMAN 1 Runding
C. FISIKA
1. SMAN Unggul Subulussalam (Haris Suhendar)
2. SMAN 1 Simpang Kiri
3. SMAN Unggul Subulussalam (Fitriana Risna)
D. BIOLOGI
1. SMAN 1 Simpang Kiri
2. SMAS Jannatul Firdaus
3. SMAN 1 Simpang Kiri
E. ASTRONOMI
1. SMAN 1 Simpang Kiri
2. SMA Plus Muhammadiyah
3. SMAN Unggul Subulussalam (Kiki Karmayanti Danil)
F. EKONOMI
1. SMA Plus Muhammadiyah
2. SMAN 1 Simpang Kiri
3. SMAN Unggul Subulussalam (Siti Nurhayati)
G. KOMPUTER
1. SMAN 1 Simpang Kiri
2. SMA Plus Muhammadiyah
3. MAN Subulussalam
H. KEBUMIAN (GEOSAINS)
1. SMAN Unggul Subulussalam (Indra Hidayat)
2. SMAN Unggul Subulussalam (Ratu Amanah Ulfa)
3. SMAN 1 Runding
Buat para pemenang harus belajar lebih semangat untuk bisa menang ditingkat propinsi yang akan diadakan dibulan juni nanti....
Minggu, 21 Februari 2010
Halaman tentang Guru
Lentera III
(Goresan buat Guru)
Mengenal mu adalah anugrah
Aku malam sepi memerah
Sedangkan kau sering selimuti aku
Dengan secercah kekaguman yang terbaik
Kadang aku hanya bias membisu
Meranggas jatuh jiwa yang pilu
Menatapmu seperti sesuatu yang hilang, kembali ada
Kembali datang merambah lembut
Hatimu merah jingga
Kadang aku ikut terbawa ke sana
Menemanimu walau hanya menyeduh secangkir kopi
Secangkir kopi kesukaan mu
Kau seperti beringin yang kokoh berdiri
Walau rapuh kadang menikam mu
Juga taring tajam menggores riakmu
Tapi aura mu begitu kuat
Temukan aku di balik cahaya
Kota Ketiga, 19 Februari 2009
Minggu, 17 Januari 2010
KENAPA AKU TAK DILAHIRKAN MENJADI SUPERSTAR (UNTUK PARA REMAJA)
Seorang
remaja menulis e-mail pada tuhan. “ Ketika menciptakan manusia, bagai
mana kau menentukan bakat – bakat mana yang diberikan pada masing –
masing orang? Apa yang membuat Mu memberikan suara merdu pada Celine
Dion, dan mengapa bukan sosok Skater yang menerima mendali emas atau
sosok seorang doktor?” Lalu Tuhan membalasnya “ Aku tidak membuat
keputusan – keputusan itu. Kaulah yang melakukannya. Pikirkanlah ini :
kau menciptakan dirimu sendiri tiap waktu. Kau melukis potret dirimu
sendiri, kemampuan, bakat, kecakapan, karakteristik dan kualitas fisik,
keadaan yang lebih luar adalah warna – warna yang kau gunakan, Aku
menyediakan kanvas, kaulah yang memilih warna – warnanya”. (Neale Donald
Walsch, Percakapan dengan Tuhan untuk Remaja)
Semua
kamu dalah superstar juga superman. Namun tak ada manusia yang di dunia
ini lahir langsing menjadi superstar. Tidak percaya, coba amati saja
tumbuhan yang ada di sekitarmu. Adakah mawar yang kamu tanam langsung
muncul kembangnya? Adakah biji mangga yang kamu tanam langsung
menyajikan buahnya yang ranum dan manis?
Semuanya
mengalami proses, Kecil, membesar, kemudian membesar dan memunculkan
bentuk aslinya. Benih mangga tidak akan persis sama dengan pohon atau
buahnya. Tak ada tanda – tanda bahwa benih mangga itu kan menjadi pohon
mangga yang kuat dan kokoh, namun jika ia terus dibiarkan tumbuh, dia
akan menjadi pohon mangga yang besar, kokoh dan rindang dan
memnghasilkan buah yang sangat manis. Begitu juga dengan kamu, saat ini
gak jelas tanda bahwa kamu akan menjadi apa dan siapa. Persisi seperti
biji mangga, teruslah tumbuh dan menetap pada tempat mu tumbuh, jika
biji mangga tersebut terus berpindah tempat dia akan mati.
Pada
proses ini yang dibutuhkan adalah kesabaran. Pohon tidak pernah tumbuh
secara tergesa. Pertumbuhan yang terlalu cepat akan menghasilkan buah
yang kurang enak, atau menyimpan penyakit. Keinginan yang terlalu cepat
untuk mendapatkan sesuatu akan membuat mu sakit. Adik kamu yang masih
bayi tidak dapat langsung mengunyah donat kesukaan mu. Begitu dipaksa
adik kamu akan merasa sakit. Ibumu yang mengatur kapan saatnya adik bayi
akan diberi bubur, kapan waktunya mendapatkan nasi. Semuanya diatur
dengan kasih dan daya terima adik bayi.
Begitu
juga dengan diri kamu, Tuhan yang dalam bahasa Al – Quran sering
disebut Rabb, adalah pemelihara, pengasuh dan pendidik, Tuhan yang Rabb
itu member kamu sesuai dengan daya terima. Semakin besar daya terima
yang kamu miliki, semakin melimpah pemberian Tuhan kepada kamu. Tuhan
tidak membedakan satu manusia dengan manusia lain, semua diperlakukan
secara Rahman: member sesuai dengan daya terima.
Daya
terima itu seperti gelas. Kamu haus dan ingin minum. Semakin besar
gelas yang kamu miliki, semakin banyak air yang dapat kamu peroleh.
Bedanya gelas itu kamu yang membuatnya. Gelas itu dapat membesar dan
mengecil sesuai dengan keinginan kamu. Daya terima itu dapat kamu
ciptakan dengan menerima diri kamu apa adanya. Semakin besar kamu
menerima dirimu apapun kondisinya, semakin besar pula kita menerima
pemberian Tuhan. So jangan berkecil hati. ( sumber “Pede Aja lagi By
Bambang Q-Anees)
IBU, DENGAN APA AKU MENYUSUINYA ?
Ditulis oleh Indra YT
Genggaman tangan ibu begitu erat. Dari situ dapat kurasakan kesakitan
yang dideritanya dan perjuangan hidup matinya. Jika aku baru pertama
kali menyaksikannya mungkin separuh nyawaku sudah terbang tak tentu
arah. Erangan nafas ibu begitu menghujam jantungku. Aku hanya dapat
membalas dekapan tangan ibu di telapak tanganku.
Ayah yang sejak setengah tahun lalu mengadu nasib di negara tetangga tak tahu bagaimana anginnya. Tinggallah aku dan ibu yang mungkin bertambah satu lagi. Ibu masih berjuang untuk mengerang, mengejan bahkan untuk bernafas. Mbok Kandis yang hanya diam dalam melaksanakan ritualnya menambah kebisuan malam yang penuh dengan rintihan.
Genggaman tanganku masih membalut tangan ibu yang takkan kulerai hingga prosesi ini selesai. Selama tujuh tahun aku hidup di dunia ini sudah tiga kali aku terlibat langsung dalam adegan yang menurutku mematikan. Sudah tiga kali pula aku menyaksikan serah terima benda yang dikeluarkan ibu dengan berlumur darah oleh ayahku. Ibu yang terkulai lemah tak mampu mencairkan hati ayah yang membatu. Padahal imbalan yang kami terima tak seberapa. Ibu hanya tidak akan memulung selama beberapa minggu. Aku dapat merasakan apa yang bercokol dalam hati ibu. Wajahnya yang tidak ikhlas, matanya yang berpeluh, desahan nafasnya yang mengamuk.
Nafas ibu semakin menderu seperti puting beliung, genggaman tangan ibu semakin mengikat seperti lilitan ular akan mangsanya. Aku mulai panik. Ini berbeda. Biasanya aku hanya menyapu butiran air dikeningnya. Kali ini aku harus menyeka air yang mengalir dari matanya. Seharusnya ibu senang karena ayah tidak ada untuk menyerahkan separuh nyawanya kepada orang lain.
Mbok Kandis yang membisu mulai mengeluarkan suara yang menurutku tanda kepanikan. Tanpa melepaskan genggaman ibu, aku mencoba membaca goresan-goresan wajah Mbok Kandis. Di sana terlihat bahwa Mbok Kandis putus asa, tidak mampu menyelesaikan prosesi ini. Aku menatapnya penuh harap. Mbok Kandis berusaha lagi. Aku tak tahu apa yang dilakukan Mbok Kandis di balik kain yang menutupi selangkangan ibu.
“Sungsang!” Sekilas terdengar suara angin di telingaku sekaligus desiran darahku mengalir seribu kali lebih cepat. Aku tidak tahu apa artinya tapi dari raut wajah Mbok Kandis yang begitu ketakutan dan wajah ibu yang begitu kesakitan, aku yakin ini berbahaya.
Aku hampir menangis. Kuciumi ibu yang terus-menerus mengerang kesakitan. Dia mulai menatapku. Dan aku tak mampu berkata apa-apa. Entah dia mendengar atau tidak, dalam hati aku terus memberi semangat. Matanya mulai terkatup dan genggamannya mulai melemah. Sesaat semuanya menjadi ricuh berusaha menyadarkan ibu. Aku menggenggam, meremas, menggosok-gosok tangan ibu. Sementara Mbok Kandis menyebarkan bau-bauan yang amat sangat menyengat.
Ibu masih tidak sadarkan diri. Aku diguncang kepanikan yang luar biasa. Tubuhku gemetar sama rasanya ketika aku tidak makan selama dua hari. Butiran bening mulai mengucur dari kening Mbok Kandis. Batinku terus merajut doa pada Yang Kuasa. Aku menyesali permintaan ibu untuk dibawa kemari karena dari awal aku sudah merasa sangat khawatir padahal prosesi serupa yang terdahulu dilakukan di tempat ini juga. Tapi aku juga tak dapat berbuat apa-apa karena terlalu sulit bagi orang-orang seperti kami untuk dapat menembus gedung putih.
Usaha kami menyadarkan ibu tidak sia-sia. Prosesi itu berlanjut kembali tapi dengan erangan yang menyiratkan kesakitan yang begitu dahsyat. Baru kali ini kulihat ibu begitu tersiksa. Ibu mengejan, memekik, dan merapatkan giginya sekuat-kuatnya. Ruh dan jasadku seakan terpisah karena tak sanggup mendengar teriakan ibu. Apakah ibu juga merasakan sakit yang sama ketika melahirkan aku? Apakah ibu-ibu lain juga harus menderita ketika harus melahirkan anak-anaknya? Dan aku, apakah ketika nantinya akan melahirkan anak-anakku juga harus tersiksa? Aku tak sanggup membayangkannya.
Usaha ibu berhasil. Seonggok daging berbalut ari-ari dan lumuran darah telah keluar dengan diiringi tangisan merdu. Aku lega, dan ibu terlihat lebih tenang. Ibu sibuk mengatur nafasnya yang mengalir satu per satu. Mbok Kandis pergi entah kemana membawa bayi itu.
Kembali kusapu kening dan pipi ibu. Aku mulai membersihkan selangkangannya dari cairan-cairan merah berbau amis yang muncrat entah kemana. Aku heran, sesuatu yang ganjil terjadi. Mengapa darah ibu mengalir begitu derasnya seperti mata air yang mengalir di belakang rumahku?
Aku panik. Malam yang kelam telah menelan Mbok Kandis. Barisan paduan suara binatang malam menghambat pendengaranku akan tangisan bayi yang dibawanya. Di ambang pintu aku hanya memandang hitamnya awan yang menutupi bulan dan putihnya wajah ibu yang sendu dan sayu. Untunglah Mbok Kandis segera kembali dengan bayi yang didekap kuat dengan jarik usang. Melihat keadaan ibu, Mbok Kandis langsung menyerahkan apa yang ada di tangannya kepadaku. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, biasanya ayah yang langsung menggendongnya dan memberikan kepada orang lain.
Ibu terkulai lemas dan nyaris tidak ada kehidupan diwajahnya. Aku mendekati ibu tanpa menghiraukan Mbok Kandis yang sudah kehabisan akal dan tenaga untuk membantu ibu. Mata ibu terbuka. Tanpa tenaga ia berusaha meraih bayi dalam gendonganku. Kusambut tangan ibu dan menggenggamnya. Aku mengerti apa yang dikatakannya lewat mata pilunya.
Waktu seolah berhenti. Untuk beberapa saat aku terpaku menatap wajah ibu yang putih pucat. Guratan-guratan kesedihan yang selama ini dipangkunya hilang sudah. Penderitaan-penderitaan yang selalu ditelannya sirna sudah. Tinggallah aku yang akan memikulnya. Tanpa tetesan embun dan kucuran peluh dari mataku, aku menyaksikan ibu tanpa perlawanan meregang nyawa. Teringat aku pada pesan ibu yang terakhir.
“Ibu, dengan apa aku menyusuinya?”.
Ayah yang sejak setengah tahun lalu mengadu nasib di negara tetangga tak tahu bagaimana anginnya. Tinggallah aku dan ibu yang mungkin bertambah satu lagi. Ibu masih berjuang untuk mengerang, mengejan bahkan untuk bernafas. Mbok Kandis yang hanya diam dalam melaksanakan ritualnya menambah kebisuan malam yang penuh dengan rintihan.
Genggaman tanganku masih membalut tangan ibu yang takkan kulerai hingga prosesi ini selesai. Selama tujuh tahun aku hidup di dunia ini sudah tiga kali aku terlibat langsung dalam adegan yang menurutku mematikan. Sudah tiga kali pula aku menyaksikan serah terima benda yang dikeluarkan ibu dengan berlumur darah oleh ayahku. Ibu yang terkulai lemah tak mampu mencairkan hati ayah yang membatu. Padahal imbalan yang kami terima tak seberapa. Ibu hanya tidak akan memulung selama beberapa minggu. Aku dapat merasakan apa yang bercokol dalam hati ibu. Wajahnya yang tidak ikhlas, matanya yang berpeluh, desahan nafasnya yang mengamuk.
Nafas ibu semakin menderu seperti puting beliung, genggaman tangan ibu semakin mengikat seperti lilitan ular akan mangsanya. Aku mulai panik. Ini berbeda. Biasanya aku hanya menyapu butiran air dikeningnya. Kali ini aku harus menyeka air yang mengalir dari matanya. Seharusnya ibu senang karena ayah tidak ada untuk menyerahkan separuh nyawanya kepada orang lain.
Mbok Kandis yang membisu mulai mengeluarkan suara yang menurutku tanda kepanikan. Tanpa melepaskan genggaman ibu, aku mencoba membaca goresan-goresan wajah Mbok Kandis. Di sana terlihat bahwa Mbok Kandis putus asa, tidak mampu menyelesaikan prosesi ini. Aku menatapnya penuh harap. Mbok Kandis berusaha lagi. Aku tak tahu apa yang dilakukan Mbok Kandis di balik kain yang menutupi selangkangan ibu.
“Sungsang!” Sekilas terdengar suara angin di telingaku sekaligus desiran darahku mengalir seribu kali lebih cepat. Aku tidak tahu apa artinya tapi dari raut wajah Mbok Kandis yang begitu ketakutan dan wajah ibu yang begitu kesakitan, aku yakin ini berbahaya.
Aku hampir menangis. Kuciumi ibu yang terus-menerus mengerang kesakitan. Dia mulai menatapku. Dan aku tak mampu berkata apa-apa. Entah dia mendengar atau tidak, dalam hati aku terus memberi semangat. Matanya mulai terkatup dan genggamannya mulai melemah. Sesaat semuanya menjadi ricuh berusaha menyadarkan ibu. Aku menggenggam, meremas, menggosok-gosok tangan ibu. Sementara Mbok Kandis menyebarkan bau-bauan yang amat sangat menyengat.
Ibu masih tidak sadarkan diri. Aku diguncang kepanikan yang luar biasa. Tubuhku gemetar sama rasanya ketika aku tidak makan selama dua hari. Butiran bening mulai mengucur dari kening Mbok Kandis. Batinku terus merajut doa pada Yang Kuasa. Aku menyesali permintaan ibu untuk dibawa kemari karena dari awal aku sudah merasa sangat khawatir padahal prosesi serupa yang terdahulu dilakukan di tempat ini juga. Tapi aku juga tak dapat berbuat apa-apa karena terlalu sulit bagi orang-orang seperti kami untuk dapat menembus gedung putih.
Usaha kami menyadarkan ibu tidak sia-sia. Prosesi itu berlanjut kembali tapi dengan erangan yang menyiratkan kesakitan yang begitu dahsyat. Baru kali ini kulihat ibu begitu tersiksa. Ibu mengejan, memekik, dan merapatkan giginya sekuat-kuatnya. Ruh dan jasadku seakan terpisah karena tak sanggup mendengar teriakan ibu. Apakah ibu juga merasakan sakit yang sama ketika melahirkan aku? Apakah ibu-ibu lain juga harus menderita ketika harus melahirkan anak-anaknya? Dan aku, apakah ketika nantinya akan melahirkan anak-anakku juga harus tersiksa? Aku tak sanggup membayangkannya.
Usaha ibu berhasil. Seonggok daging berbalut ari-ari dan lumuran darah telah keluar dengan diiringi tangisan merdu. Aku lega, dan ibu terlihat lebih tenang. Ibu sibuk mengatur nafasnya yang mengalir satu per satu. Mbok Kandis pergi entah kemana membawa bayi itu.
Kembali kusapu kening dan pipi ibu. Aku mulai membersihkan selangkangannya dari cairan-cairan merah berbau amis yang muncrat entah kemana. Aku heran, sesuatu yang ganjil terjadi. Mengapa darah ibu mengalir begitu derasnya seperti mata air yang mengalir di belakang rumahku?
Aku panik. Malam yang kelam telah menelan Mbok Kandis. Barisan paduan suara binatang malam menghambat pendengaranku akan tangisan bayi yang dibawanya. Di ambang pintu aku hanya memandang hitamnya awan yang menutupi bulan dan putihnya wajah ibu yang sendu dan sayu. Untunglah Mbok Kandis segera kembali dengan bayi yang didekap kuat dengan jarik usang. Melihat keadaan ibu, Mbok Kandis langsung menyerahkan apa yang ada di tangannya kepadaku. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, biasanya ayah yang langsung menggendongnya dan memberikan kepada orang lain.
Ibu terkulai lemas dan nyaris tidak ada kehidupan diwajahnya. Aku mendekati ibu tanpa menghiraukan Mbok Kandis yang sudah kehabisan akal dan tenaga untuk membantu ibu. Mata ibu terbuka. Tanpa tenaga ia berusaha meraih bayi dalam gendonganku. Kusambut tangan ibu dan menggenggamnya. Aku mengerti apa yang dikatakannya lewat mata pilunya.
Waktu seolah berhenti. Untuk beberapa saat aku terpaku menatap wajah ibu yang putih pucat. Guratan-guratan kesedihan yang selama ini dipangkunya hilang sudah. Penderitaan-penderitaan yang selalu ditelannya sirna sudah. Tinggallah aku yang akan memikulnya. Tanpa tetesan embun dan kucuran peluh dari mataku, aku menyaksikan ibu tanpa perlawanan meregang nyawa. Teringat aku pada pesan ibu yang terakhir.
“Ibu, dengan apa aku menyusuinya?”.

18.43
BLOG SMAN UNGGUL

