Genggaman tangan ibu begitu erat. Dari situ dapat kurasakan kesakitan
yang dideritanya dan perjuangan hidup matinya. Jika aku baru pertama
kali menyaksikannya mungkin separuh nyawaku sudah terbang tak tentu
arah. Erangan nafas ibu begitu menghujam jantungku. Aku hanya dapat
membalas dekapan tangan ibu di telapak tanganku.
Ayah yang sejak
setengah tahun lalu mengadu nasib di negara tetangga tak tahu bagaimana
anginnya. Tinggallah aku dan ibu yang mungkin bertambah satu lagi. Ibu
masih berjuang untuk mengerang, mengejan bahkan untuk bernafas. Mbok
Kandis yang hanya diam dalam melaksanakan ritualnya menambah kebisuan
malam yang penuh dengan rintihan.
Genggaman tanganku masih membalut
tangan ibu yang takkan kulerai hingga prosesi ini selesai. Selama tujuh
tahun aku hidup di dunia ini sudah tiga kali aku terlibat langsung
dalam adegan yang menurutku mematikan. Sudah tiga kali pula aku
menyaksikan serah terima benda yang dikeluarkan ibu dengan berlumur
darah oleh ayahku. Ibu yang terkulai lemah tak mampu mencairkan hati
ayah yang membatu. Padahal imbalan yang kami terima tak seberapa. Ibu
hanya tidak akan memulung selama beberapa minggu. Aku dapat merasakan
apa yang bercokol dalam hati ibu. Wajahnya yang tidak ikhlas, matanya
yang berpeluh, desahan nafasnya yang mengamuk.
Nafas ibu semakin
menderu seperti puting beliung, genggaman tangan ibu semakin mengikat
seperti lilitan ular akan mangsanya. Aku mulai panik. Ini berbeda.
Biasanya aku hanya menyapu butiran air dikeningnya. Kali ini aku harus
menyeka air yang mengalir dari matanya. Seharusnya ibu senang karena
ayah tidak ada untuk menyerahkan separuh nyawanya kepada orang lain.
Mbok Kandis yang membisu mulai mengeluarkan suara yang menurutku tanda
kepanikan. Tanpa melepaskan genggaman ibu, aku mencoba membaca
goresan-goresan wajah Mbok Kandis. Di sana terlihat bahwa Mbok Kandis
putus asa, tidak mampu menyelesaikan prosesi ini. Aku menatapnya penuh
harap. Mbok Kandis berusaha lagi. Aku tak tahu apa yang dilakukan Mbok
Kandis di balik kain yang menutupi selangkangan ibu.
“Sungsang!”
Sekilas terdengar suara angin di telingaku sekaligus desiran darahku
mengalir seribu kali lebih cepat. Aku tidak tahu apa artinya tapi dari
raut wajah Mbok Kandis yang begitu ketakutan dan wajah ibu yang begitu
kesakitan, aku yakin ini berbahaya.
Aku hampir menangis. Kuciumi
ibu yang terus-menerus mengerang kesakitan. Dia mulai menatapku. Dan aku
tak mampu berkata apa-apa. Entah dia mendengar atau tidak, dalam hati
aku terus memberi semangat. Matanya mulai terkatup dan genggamannya
mulai melemah. Sesaat semuanya menjadi ricuh berusaha menyadarkan ibu.
Aku menggenggam, meremas, menggosok-gosok tangan ibu. Sementara Mbok
Kandis menyebarkan bau-bauan yang amat sangat menyengat.
Ibu masih
tidak sadarkan diri. Aku diguncang kepanikan yang luar biasa. Tubuhku
gemetar sama rasanya ketika aku tidak makan selama dua hari. Butiran
bening mulai mengucur dari kening Mbok Kandis. Batinku terus merajut doa
pada Yang Kuasa. Aku menyesali permintaan ibu untuk dibawa kemari
karena dari awal aku sudah merasa sangat khawatir padahal prosesi serupa
yang terdahulu dilakukan di tempat ini juga. Tapi aku juga tak dapat
berbuat apa-apa karena terlalu sulit bagi orang-orang seperti kami untuk
dapat menembus gedung putih.
Usaha kami menyadarkan ibu tidak
sia-sia. Prosesi itu berlanjut kembali tapi dengan erangan yang
menyiratkan kesakitan yang begitu dahsyat. Baru kali ini kulihat ibu
begitu tersiksa. Ibu mengejan, memekik, dan merapatkan giginya
sekuat-kuatnya. Ruh dan jasadku seakan terpisah karena tak sanggup
mendengar teriakan ibu. Apakah ibu juga merasakan sakit yang sama ketika
melahirkan aku? Apakah ibu-ibu lain juga harus menderita ketika harus
melahirkan anak-anaknya? Dan aku, apakah ketika nantinya akan melahirkan
anak-anakku juga harus tersiksa? Aku tak sanggup membayangkannya.
Usaha
ibu berhasil. Seonggok daging berbalut ari-ari dan lumuran darah telah
keluar dengan diiringi tangisan merdu. Aku lega, dan ibu terlihat lebih
tenang. Ibu sibuk mengatur nafasnya yang mengalir satu per satu. Mbok
Kandis pergi entah kemana membawa bayi itu.
Kembali kusapu kening
dan pipi ibu. Aku mulai membersihkan selangkangannya dari cairan-cairan
merah berbau amis yang muncrat entah kemana. Aku heran, sesuatu yang
ganjil terjadi. Mengapa darah ibu mengalir begitu derasnya seperti mata
air yang mengalir di belakang rumahku?
Aku panik. Malam yang kelam
telah menelan Mbok Kandis. Barisan paduan suara binatang malam
menghambat pendengaranku akan tangisan bayi yang dibawanya. Di ambang
pintu aku hanya memandang hitamnya awan yang menutupi bulan dan putihnya
wajah ibu yang sendu dan sayu. Untunglah Mbok Kandis segera kembali
dengan bayi yang didekap kuat dengan jarik usang. Melihat keadaan ibu,
Mbok Kandis langsung menyerahkan apa yang ada di tangannya kepadaku. Aku
tak tahu apa yang harus kulakukan, biasanya ayah yang langsung
menggendongnya dan memberikan kepada orang lain.
Ibu terkulai lemas
dan nyaris tidak ada kehidupan diwajahnya. Aku mendekati ibu tanpa
menghiraukan Mbok Kandis yang sudah kehabisan akal dan tenaga untuk
membantu ibu. Mata ibu terbuka. Tanpa tenaga ia berusaha meraih bayi
dalam gendonganku. Kusambut tangan ibu dan menggenggamnya. Aku mengerti
apa yang dikatakannya lewat mata pilunya.
Waktu seolah berhenti.
Untuk beberapa saat aku terpaku menatap wajah ibu yang putih pucat.
Guratan-guratan kesedihan yang selama ini dipangkunya hilang sudah.
Penderitaan-penderitaan yang selalu ditelannya sirna sudah. Tinggallah
aku yang akan memikulnya. Tanpa tetesan embun dan kucuran peluh dari
mataku, aku menyaksikan ibu tanpa perlawanan meregang nyawa. Teringat
aku pada pesan ibu yang terakhir.
“Ibu, dengan apa aku menyusuinya?”
.